Home > Abdimas, Riset > Perguruan Tinggi: Nahkoda Pengawal Masyarakat Dalam Deruan Ombak Globalisasi

Perguruan Tinggi: Nahkoda Pengawal Masyarakat Dalam Deruan Ombak Globalisasi

Sumber link: http://pmiingalah.wordpress.com/2007/06/16/perguruan-tinggi-nahkoda-pengawal-masyarakat-dalam-deruan-ombak-globalisasi/

Khafizh Rosyidi Ichsan – Cepatnya Speedometer perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah membawa perubahan yang signifikan di hampir semua aspek kehidupan manusia. Di mana berbagai permasalahan tidak dapat dipecahkan kecuali dengan upaya penguasaan dan peningkatan IPTEK itu sendiri. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh ”Bapak sains dan fisika modern”, Galileo Galilei, dari Pisa Fiorentina Italia, bahwa ”Dunia ini adalah kitab yang selalu terbuka untuk dibaca dan sebuah kitab itu tidak akan dapat dipahami, kecuali oleh seseorang yang mempelajari bahasanya dan belajar membaca abjad-abjad penyusunnya”. Tak pelak lagi perubahan tersebut telah menggiring individu, kelompok, masyarakat serta institusi-institusi di negara kita kepada era persaingan bebas (globalisasi).

Perguruan tinggi sebagai salah satu institusi yang ada di Indonesia mengemban amanah untuk menjawab tantangan zaman tersebut. Dalam hal ini perguruan tinggi harus mengupayakan dan menjadikan dirinya sebagai pusat pengembangan dan penyebarluasan IPTEK serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Yang mana ketiga hal tersebut termaktub di dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Keberadaan perguruan Tinggi mempunyai kedudukan dan fungsi penting dalam perkembangan suatu masyarakat. Proses perubahan sosial (social change) di masyarakat yang begitu cepat, menuntut agar kedudukan dan fungsi perguruan tinggi itu benar-benar terwujud dalam peran yang nyata. Pada umumnya peran perguruan tinggi itu diharapkan tertuang dalam pelaksanaan Tri dharma perguruan tinggi, yaitu : dharma pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dengan dharma pendidikan, perguruan tinggi diharapkan melakukan peran pencerdasan masyarakat dan transmisi budaya. Dengan dharma penelitian, perguruan tinggi diharapkan melakukan temuan-temuan baru ilmu pengetahuan dan inovasi kebudayaan. Dengan dharma pengabdian masyarakat, perguruan tinggi diharapkan melakukan pelayanan masyarakat untuk ikut mempercepat proses peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat. Melalui dharma pengabdian pada masyarakat ini, perguruan tinggi juga akan memperoleh feedback dari masyarakat tentang tingkat kemajuan dan relevansi ilmu yang dikembangkan perguruan tinggi itu.

Menurut Prof. Dr. Atho’ Mudzhar (2004), salah seorang guru besar di IAIN Antasari, mengatakan bahwa idealnya ketiga peran dharma perguruan tinggi itu, berjalan serempak dan saling berterkaitan (sinergis), sehingga secara teoritik suatu peguruan tingi tidak boleh hanya berperan dalam sebagian dharma dan meninggalkan yang lain. Namun di dalam kenyataannya ketidakseimbangan peran itu seringkali terjadi. Umpamanya ketika suatu perguruan tinggi hanya melakukan peran pendidikan dan melupakan sama sekali dua dharma yang lain, maka perguruan tinggi itu sebenarnya sedang berperan seperti sekolah. Demikian pula umpamanya jika suatu perguruan tinggi lebih condong dan banyak melakukan peran dalam dharma pengabdian pada masyarakat maka peguruan tinggi itu seolah-olah sedang berperan sebagai organisasi sosial atau lembaga dakwah. Karena itu, mencari perimbangan pelaksanaan ketiga dharma itu menjadi sesuatu yang sangat penting.

Menurut Prof. Atho’ dalam pelaksanaan dharma penelitian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1.Penelitian diperguruan tinggi yang dilakukan oleh para dosen adalah guna mengembangkan pemahaman mereka sendiri mengenai bidang yang bersangkutan, sehingga sekaligus mengembangkan dan memperbaiki mutu bahan perkuliahan.
2.Penelitian oleh para dosen juga berperan mengembangkan teori-teori dalam bidang yang bersangkutan terutama pada penelitian-penelitian murni.
3.Penelitian oleh para dosen dan staf perguruan tinggi juga dapat bersifat terapan untuk melayani masyarakat luas baik masyarakat pasar, konsumen, maupun lainnya. Penelitian bentuk terakhir ini sebenarnya juga salah satu bentuk pengabdian pada masyarakat. Semakin banyak dan tingginya mutu penelitian suatu perguruan tinggi, semakin tinggi pula derajat perguruan tinggi itu dalam dunia ilmu pengetahuan. Bahkan sebagian masyarakat menyebut diri sebagai research university.

Lebih lanjut menurut kepala Litbang Depag RI bahwa dalam pelaksanaan dharma pengabdian kepada masyarakat dapat berupa publikasi hasil-hasil penelitian dan dapat pula berbentuk kegiatan-kegiatan pelayanan kepada masyarakat seperti layanan kesehatan Rumah Sakit Perguruan Tinggi, atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa. Kedua jenis pengabdian pada masyarakat ini sama-sama diperlukan, tetapi volumenya tidak boleh melebihi volume kegiatan dharma pendidikan dan penelitian.

Dengan paradigma pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi seperti disebut diatas, maka sekarang perhatian harus ditujukan kepada sistem perubahan masyarakat (social change), sejauh manakah pergerakan perubahan social masyarakat tersebut terjadi. Perubahan sosial dapat didefinisikan sebagai “the alteration of patterns of culture, social structures, and social behaviors over time” (perubahan social adalah perubahan pola-pola budaya (tata nilai), struktur-struktur sosial, dan perilaku sosial pada jangka waktu tertentu). Dengan definisi itu, kita dapat mengamati sejauh manakah pergeseran yang terjadi di masyarakat seperti pergeseran tata-nilai dari memandang sesuatu yang kurang baik menjadi sesuatu yang biasa saja, dari komunalisme menjadi individualisme, dari kebiasaan berinteraksi tanpa pamrih menjadi interaksi materialistik dan seterusnya.

Dalam bidang stuktur sosial, apakah telah terjadi pergeseran kaum elit dari turun temurun menjadi sistem merit yang demokratis, pergeseran kedudukan ekonomi penduduk pendatang dan warga setempat, pergeseran dari desa ke kota, pergeseran wilayah peran pemuka agama dari mencakup semua hal kehidupan kepada mengkhusus kepada soal-soal agama atau sebaliknya. Dalam bidang prilaku sosial, perlu dicermati misalnya apakah masyarakat mengalami pergeseran-pergeseran perilaku, cara berpakaian masyarakat, cara masyarakat bertegur sapa satu sama lain, cara bertransportasi, bahkan cara menyelesaikan masalah ketika di antara mereka terjadi benturan kepentingan, misalnya, dari sikap lembut dan santun menjadi kurang lembut, atau sebaliknya, dan seterusnya.

Selanjutnya, dalam rangka implementasi Tri Dharma ini, perguruan tinggi sebagai aktor utamanya harus melakukan satu bentuk partisipasi langsung dengan hidup serawungan bersama-sama masyarakat, untuk benar-benar bisa merasakan dan mengalami secara langsung problematika kehidupan yang dihadapi oleh masyarakat serta dapat membantu mereka dalam memberikan alternatif solusi yang sesuai dengan disiplin keilmuan yang telah mereka (mahasiswa) gali selama empat tahun di bangku perkuliahan kemudian dikorelasikan dengan kondisi riil masyarakat.

Begitu juga sebagai aktor utama dalam hal ini, mahasiswa juga dapat menggali secara langsung ilmu pengetahuan dan teknologi secara empiris yang bersifat riil bersama-sama dengan masyarakat dalam upaya mensukseskan pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia seutuhnya yang sesuai dengan cita-cita luhur bangsa kita dapat tercapai. Masa depan bangsa ada di genggaman tangan anda, sahabat.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: